Tahun ini, karena weekend kami
kebetulan banyak sekali kegiatan, dan Hubby selama bulan November ngelembur mulu jadi saya gak tega gangguin acara istirahat dia buat angkut2 barang dari gudang, acara pasang pohon Natal jadi ngaret.
Tapi rasanya senaaaaaaang banget setelah melihat daya upaya saya menghadirkan suasana Natal ala kadarnya di rumah tanpa pohon Natal, akhirnya suatu malam, setelah pulang dari mencari nafkah di dunia luar yang kejam, Hubby pun melihat berkeliling mengagumi hasil jerih payah saya kemudian berkata, "Sabtu ini aku bangun pagi deh, biar bisa masang pohon Natal." Horeeeee!!!
Saya paling anti tuh sama Natal yang
kelewat komersial. Apalagi yang tiap tahun harus beli hiasan baru! Buat saya
(yang katanya pelit ini), yang penting adalah semangat Natalnya. Jadi tiap
tahun saya menghias rumah dengan apa yang saya punya saja. Kalau ada yang
rusak, baru deh menambah perbendaharaan perlengkapan Natal kami.
Misalnya pojok ruangan ini, yang
sepanjang tahun memang menjadi semacam cornerpiece yang eyecatching, tiap musim
berganti-ganti sesuai dengan tema dan mood saat itu. Saya cukup menumpuk
kardus2 bekas untuk menciptakan elevasi yang berbeda-beda, menggelar kain warna
emas yang terbuat dari salah satu clubbing dress saya waktu muda dulu (uhuk)
yang sudah tidak dipakai lagi.
Tahu sendiri kan betapa imut dan
ngegemesin koleksi dekorasi Natal yang dijual di Ace Hardware setiap tahun
menjelang Natal? Niat hati pingin ngeborong semuanya, tapi niat kantong
melarang. Tenaaaaang…. Bisa diakalin kok! Waktu yang paling tepat untuk belanja
barang-barang lucu itu adalah…. bulan Januari! Kenapa? Karena pada saat itu Ace
Hardware akan berusaha ‘menghabiskan’ Christmas inventory mereka untuk membuat
space buat merchandise baru bertemakan Imlek atau Valentine. Semua piring,
mangkok, dan cangkir lucu yang Anda lihat di post ini dibeli dengan 70% diskon
pada bulan Januari beberapa tahun yang lalu. Kalau bisa murah, kenapa harus
bayar mahal?
Kami tidak membeli apa-apa untuk
merayakan Natal tahun ini. Kami cukup puas dengan segala macam benda-benda
cantik yang sudah kami miliki. Itu saja sudah cukup dan berkelimpahan,
setidaknya bagi kami yaaa… Lagipula, inti dari perayaan Natal bukanlah
Christmas shopping toh…






