Thursday, January 19, 2017

Highlight of 2016: Travel

In 2016…

Traveling is something that I love to do to enrich the tapestry of life. I am basically a homebody who love to beautify my house. I love puttering and enjoy staying at home, taking delights at the lovely detail of my dwelling: a new picture hanging on the wall, ray of sunshine coming through the sparkling, clean windows, colorful objects set up carefully with a lot of love on my corner piece.

But several times a year, I make journeys to different places to refresh my mind, widen my thoughts, and with each travel I found out that I always, always, came home somehow learning something brand new, motivated to be a better person, and more in awe of the wonderful planet that the Lord has blessed us with. When I travel, I marvel not only on the landscape and beauty of the place, but also the people, the history of the place, I embrace the culture, the personality, the sense of wander, and what that particular place has gone through that made it such it is today.

I was blessed to be able to visit the following wonderful places…

Singapore
Hong Kong
Tasmania

From each, I learned the long and magnificent history of people with vision, hardwork, and luck, that built all three places into what they are today.

The mosquito infested swamp that – by the power of vision of one man, Lee Kuan Yew – turned into the main hub and financial capital of South East Asia named Singapore. A land so small and without no natural resources whatsoever that even drinking water has to be imported from the neighboring country Malaysia, yet so rich, safe, stable and modern that multinational companies placed the regional offices – and therefore park their money – there, instead of their big market such as – sadly – my country Indonesia.


The exotic Hong Kong, raised from poor fisherman village into giant economic powerhouse of Asia. Its skyline is unbeatable even by Manhattan. Over the years, it transformed itself into a sophisticated, ultra modern city that boast one of most expensive property prices in the world. With all its glamour and sophistication, who ever thought that less than a century ago, Hong Kong was only a gateway for people who ran away from Communist China? Of course, when it was returned to China in 1997, China was smart enough, and forward thinking enough not to change anything – including the currency – of Hong Kong, that it stays as a safe banking and corporation haven that it is today.








 The beautiful Tasmania. Many years ago, some visionary government people of Great Britain, thinking that they needed cheap labor to build and develop the new world, the new colony for England, decided to send their “most dangerous convicts” to Tasmania. There they are required to work like slaves to pay for their freedom. Those convicts would never know that they take part in a much bigger scheme that turned Tasmania into what it is today: state with the highest economic growth in Australia. Not to mention the gorgeous sceneries and majestic landscapes!












Everybody is different. I am not into shopping nor glamorous lifestyle, but I would be willing to spend a lot of money if necessary, for traveling. Just like some fashionista ladies take delight in carrying an Hermes birkin bag, I take delight in spoiling all the five senses in exploring the world.

And I thank God that He has given me the opportunity.

Wednesday, December 14, 2016

Simple Living: Minimalist Christmas Decor

Tahun ini saya agak terlambat menghias rumah untuk menyambut Natal. Telat menurut saya yaaaa….. Buat sebagian orang, memasang pohon Natal sebelum bulan Desember dianggap lebay. Tapi kalau pemikiran saya, semakin lama menikmati keindahan hiasan Natal yang dipasang dengan susah payah dengan penuh cinta (lebay memang), semakin bagus! Jadilah biasanya saya sudah mulai gerecokin Hubby buat memasang pohon Natal sementara saya bersibuk ria menghias rumah sejak pertengahan atau paling lambat akhir November.

Tahun ini, karena weekend kami kebetulan banyak sekali kegiatan, dan Hubby selama bulan November ngelembur mulu jadi saya gak tega gangguin acara istirahat dia buat angkut2 barang dari gudang, acara pasang pohon Natal jadi ngaret. Tapi rasanya senaaaaaaang banget setelah melihat daya upaya saya menghadirkan suasana Natal ala kadarnya di rumah tanpa pohon Natal, akhirnya suatu malam, setelah pulang dari mencari nafkah di dunia luar yang kejam, Hubby pun melihat berkeliling mengagumi hasil jerih payah saya kemudian berkata, "Sabtu ini aku bangun pagi deh, biar bisa masang pohon Natal." Horeeeee!!!


Saya paling anti tuh sama Natal yang kelewat komersial. Apalagi yang tiap tahun harus beli hiasan baru! Buat saya (yang katanya pelit ini), yang penting adalah semangat Natalnya. Jadi tiap tahun saya menghias rumah dengan apa yang saya punya saja. Kalau ada yang rusak, baru deh menambah perbendaharaan perlengkapan Natal kami.
 
Misalnya pojok ruangan ini, yang sepanjang tahun memang menjadi semacam cornerpiece yang eyecatching, tiap musim berganti-ganti sesuai dengan tema dan mood saat itu. Saya cukup menumpuk kardus2 bekas untuk menciptakan elevasi yang berbeda-beda, menggelar kain warna emas yang terbuat dari salah satu clubbing dress saya waktu muda dulu (uhuk) yang sudah tidak dipakai lagi.


Tahu sendiri kan betapa imut dan ngegemesin koleksi dekorasi Natal yang dijual di Ace Hardware setiap tahun menjelang Natal? Niat hati pingin ngeborong semuanya, tapi niat kantong melarang. Tenaaaaang…. Bisa diakalin kok! Waktu yang paling tepat untuk belanja barang-barang lucu itu adalah…. bulan Januari! Kenapa? Karena pada saat itu Ace Hardware akan berusaha ‘menghabiskan’ Christmas inventory mereka untuk membuat space buat merchandise baru bertemakan Imlek atau Valentine. Semua piring, mangkok, dan cangkir lucu yang Anda lihat di post ini dibeli dengan 70% diskon pada bulan Januari beberapa tahun yang lalu. Kalau bisa murah, kenapa harus bayar mahal?
 
 
 
Hiasan pohon Natal pun sederhana apa adanya. Beberapa tahun lalu kami membeli rumbai-rumbai dan segulung pita warna emas. Itu masih kami pakai sekarang. Buat ornamen pohon Natal gimana? Kami tidak rewel. Segala macam hiasan bernuansa Natal yang saya dapat dari berkas parsel Natal di kantor, - yup, maksudnya hiasan keranjang parsel - biasanya lantas dijarah sama emak-emak di kantor, termasuk saya. Naaaaah... itu yang saya pakai buat hiasan Natal seperti foto-foto ini.



Kami tidak membeli apa-apa untuk merayakan Natal tahun ini. Kami cukup puas dengan segala macam benda-benda cantik yang sudah kami miliki. Itu saja sudah cukup dan berkelimpahan, setidaknya bagi kami yaaa… Lagipula, inti dari perayaan Natal bukanlah Christmas shopping toh…

Sunday, November 20, 2016

Memang Tuhan Suruh Ke Situ...

Sore ini, waktu misa sore, kita kebetulan berangkat cukup awal, jadi parkiran gereja masih agak lowong. Alih-alih memilih tempat yang enak dan gampang keluar, suami malah belok memilih tempat yang penuh rumput tinggi dan keluarnya pasti macet karena posisi tidak dekat pintu keluar. Saya merasa aneh tapi diam saja, biarpun sebenarnya kepingin ngomel. Masa soal parkir diributin, pikir saya.

Betul juga. Bubaran misa, keluarnya maceeeet! Sekian lama waktu terbuang karena harus antri menuju jalan keluar. Ada jalan sempalan ke kiri, cukup banyak mobil yang ambil jalur alternatif ke situ, tapi suami yang biasanya gak sabaran menghadapi macet, kali ini kok ragu mau belok. Entah kenapa. Malah terus ngikutin macet.

"Lain kali jangan parkir sini lagi, deh. Rumputnya tinggi2, takut banyak ular. Dan macet!" kata saya. Suami setuju. "Aku juga bingung kenapa tadi malah parkir di situ, padahal parkiran yang lebih enak malah masih kosong," katanya.

Lalu saya melihat seorang bapak tua menawar-nawarkan sesuatu ke mobil-mobil yang terkena macet. Dua kali dia melewati mobil kami dan saya perhatikan dua plastik yang masih utuh di tangannya, pertanda jualannya tidak ada yang mau membeli. Di pinggir trotoar masih ada plastik-plastik jualan yang lain.

Pertamanya saya tidak terlalu memperhatikan, tapi karena sudah dua kali bapak tua itu lewat, saya jadi memperhatikan dengan lebih seksama. Saya tidak tahu kakek2 itu jualan apa, tapi karena kasihan, saya bilang ke suami, "Mau beli jualan kakek-kakek itu? Kasian tuh, sudah ngisep asap knalpot gak ada yang mau beli."

Jadilah suami membuka jendela mobil dan membeli dagangan bapak2 itu, yang ternyata kerupuk dikemas dalam toples plastik besar. Harganya… seratus ribu, bo! Pantesan gak laku kali yeee… Tapi tanpa banyak cakap, saya langsung membayar. Gak pakai nawar. Padahal saya terkenal pelit lhoo….

Macet lagi. Tiba-tiba ada jalan sempalan lagi yang kosong melompong. Entah kenapa gak ada yang mau belok ke situ. Dan suami tiba-tiba memutuskan untuk belok ke jalan kosong itu.

 "Ini jalan biasanya dipalang!" kata saya, mendadak panik karena samar-samar ingat pernah lewat situ.

Dan ternyata, jalan itu palangnya dibuka, dan merupakan jalan pulang pintas! Semua menit yang terbuang mengantri tadi diganti dengan jalan pintas yang tak sengaja kami temukan. Aneh...

 "Mungkin Tuhan memang memang nyuruh kita parkir di situ tadi. Kalau tidak, kita tidak bisa membeli jualan bapak tua tadi. Dan memang harus macet, kalau ngebut mana mungkin bisa melihat ada bapak itu jualannya gak laku, " kata suami yang juga bingung. "Lain kali tetap gak mau parkir di situ sih, macet, lama. Tapi bahkan waktu yang terbuang macet pun diganti sama Tuhan. Aneh, kenapa di belakang kita gak ada mobil yang ikutan belok ke sini ya? Mungkin karena seperti kata kamu, biasanya jalan ini dipalang."

Lalu kita pun pulang, sambil berdoa moga-moga mobil-mobil di belakang kita ikut membeli jualan bapak tua tadi.

“Kerupuknya kemahalan sih, tapi siapa tahu bapak tua tadi sedang perlu uang. Misalnya istrinya sakit,” kata suami. “Keluar duit seratus ribu gak akan bikin kita miskin kok. Lagian gak usah lah ngomong liburan ke luar negeri atau beli barang bermerk kalau nolongin bapak tua tadi itu aja gak mau atau masih pakai nawar, " kata suami.

 "Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.
Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu,
sebagaimana kamu melakukannya terhadap satu dari saudara-saudara-Ku yang paling kecil ini,
kamu melakukannya untuk-Ku. "
(Matius 25:35,40)

Terima kasih untuk pelajaran malam ini, Tuhan...

Tatkala Tuhan menyuruh kita melakukan suatu hal yang tidak masuk akal, lakukanlah! Karena itu pasti ada maksudnya.

Dan kalau kepatuhan itu menjadikanmu berada pada situasi tidak nyaman, atau merepotkanmu, tetap lakukanlah! Kepatuhan kita boleh jadi merupakan jawaban doa dari seseorang di ujung sana. Dengan menurutiNya dan menjadi penyalur berkat dariNya, kita ikut memuliakan Dia.

Dan mungkin, tapi kita tidak boleh menuntut, paling tidak dalam kasus kami, Dia membayar lunas semua “kerepotan” kami, mengganti semua waktu yang terbuang karena macet dengan jalan pintas yang tidak disangka-sangka.

You can NOT outgive God.

Dalam setiap rezeki dariNya, pasti ada titipan untuk orang-orang yang membutuhkan. Kalau kita tidak menyalurkanNya, berarti kita mencuri dari Tuhan.

Wednesday, November 2, 2016

A Simple Gal's Journal: Michael's First Halloween!

In the past week or so…

I am thankful for…

Kemarin Hubby pulang kerja malam-malam. Tahu kaki saya pegel abis kelas yoga, doi langsung membaptis dirinya sendiri jadi sinshe dan memijat refleksi kaki saya. Waaaaaah…. Suami pulang malem bukannya dipijitin malah minta dipijitin! Istri macam apa! Jawabannya: istri manja, hihihihihi…


Masih belum cukup, karena keenakan dipijit, saya merayu supaya sekalian dipijitin punggung sekalian. Bwahahahaha! Dibaikin malah ngelunjak! Jadilah Hubby yang malang akhirnya kudu mijit seluruh badan. Terima kasih, Hubby! Itu namanya suami baeeeeeek, suami sayaaaaang….


I went to this cool event…

Halloween at school! Sekolah siapa? Ya sekolah anak lah! Masa sekolah emaknya! Saya Katolik, jadi kami menarik batas tidak memakai kostum hantu-hantuan buat anak kami macam vampir atau setan. Michael memakai celana hijau tentara dan baju loreng tentara yang kebetulan dia sudah punya. Lalu pakai topi ‘helm’ yang diksaih seorang teman kantor, plus menenteng mainan bedil-bedilan. Jadilah little soldier!
 
Hubby dan saya sama-sama ijin dari kantor untuk menghadiri acara Halloween ini, karena akan ada fashion show dan kami berdua sama-sama kepingin nonton anak kami walk down the catwalk. Eaaaaaaaa…..



Tadinya saya sudah mau ngomel aja Hubby bawa-bawa kamera DSLR segala. Kan berat! Tapi untung doi kerajinan nenteng kamera yang berat itu, karena foto-foto hasil kamera bagus tentunya beda dengan hasil jepretan asal jadi dari kamera HP! Saya yakin mami-mami yang anaknya ikut kejepret kamera Hubby juga senang waktu saya share foto anaknya di group WA emak-emak. Nih salah satu fotonya. Imut-imut yah! Kamera Hubby menangkap dengan sangat indah cerita dan warna-warninya dunia anak-anak.
 
I watched…

Poltergeist!

Saya gak hobi nonton, tapi jadi sering nonton bioskop sejak jalan bareng Hubby. Soalnya doi tuh yaaaa, hobiiii banget nonton. Untungnya pergi nonton tidak terlalu masalah karena ada mal deket rumah yang ada bioskopnya, dan gak terlalu rame lagi! Jadi gak ilfil kalau nonton di sana, apalagi Jumat malam!

Tapi ini kita bikin movie time di rumah alias nonton DVD dalam rangka Halloween. Karena saya sangat-sangat-amat-teramat penakut, ciken abis deh pokoknya, mau nonton horror dikit gak mau, Hubby akhirnya mengusulkan nonton DVD nya matinee alias siang hari, biar gak gitu serem. Makanya saya mau.

Eeeee… bener juga nonton siang lebih gak serem. Padahal saya inget film Poltergeist dari jaman kanak-kanak, kayaknya dulu serem banget, ini kok biasa ajah! Apakah efek nonton dengan sinar matahari menembus jendela, atau karena sayanya udah ketuaan jadi filmnya terasa kurang horror ya?

I finished reading…

This book. A very nice book, as usual for Maeve Binchy. Tapi saya gak ngerti kenapa Maeve selalu memposisikan karakter wanita yang cantik dan anggun sebagai perempuan licik, culas, dan perebut pacar teman. Sementara karakter pria yang ganteng selalu akhirnya menyeleweng. Memangnya cewek dan cowok yang tampangnya biasa-biasa aja gak bisa jahat dan tidak setia yah?
 

I hung out at…

Our favorite hang out place: Fountain Lounge, Grand Hyatt! Saya sudah jatuh cinta sama tempat yang konvensional bin elegan ini sejak umur masih 18 tahun. Hubby semasa belum ketemu saya hobinya nangkring di Plaza Senayan, tapi sejak merit sama saya, PI-er sejati, doi ketularan hobi ke PI dan nongkrong di Fountain Lounge.

Ho! Jangan salah. Bukan berarti saya hobi shopping di Plaza Indonesia yaaaa… Duit dari mana atuuuuh… Dan sebagai keluarga yang malas menantang macetnya Jakarta, kami biasanya lebih suka jalan ke tempat-tempat dekat rumah saja. Tapi kadang-kadang kan bosen juga yah ke tempat itu lagi itu lagi. Well, biarpun kalau mau jujur Fountain Lounge juga itu lagi itu lagi sih. Hahaha! Kami ke sini setidak nya berapa bulan sekali, karena memang agak jauh dari rumah. Buat kami, jauh itu definisinya lebih dari 15 menit nyetir, wakakakaka…

Saya janji sama Michael, anak saya, bahwa kalau dia sudah lebih besar dan sudah lancar makan sendiri tanpa berceceran di lantai, kami akan mengajak dia makan di Grand Café di Grand Hyatt. Kalau sekarang sih bisa makan sendiri, tapi berantakan bo! Namanya juga balita umur tiga tahun! Dia bisa makan sendiri saja kami sudah bersyukur kok. Nanti aja kalau dia sudah masuk SD.