Betul juga. Bubaran misa, keluarnya
maceeeet! Sekian lama waktu terbuang karena harus antri menuju jalan keluar.
Ada jalan sempalan ke kiri, cukup banyak mobil yang ambil jalur alternatif ke
situ, tapi suami yang biasanya gak sabaran menghadapi macet, kali ini kok ragu
mau belok. Entah kenapa. Malah terus ngikutin macet.
"Lain kali jangan parkir sini lagi,
deh. Rumputnya tinggi2, takut banyak ular. Dan macet!" kata saya. Suami
setuju. "Aku juga bingung kenapa tadi malah parkir di situ, padahal
parkiran yang lebih enak malah masih kosong," katanya.
Lalu saya melihat seorang bapak tua
menawar-nawarkan sesuatu ke mobil-mobil yang terkena macet. Dua kali dia
melewati mobil kami dan saya perhatikan dua plastik yang masih utuh di
tangannya, pertanda jualannya tidak ada yang mau membeli. Di pinggir trotoar
masih ada plastik-plastik jualan yang lain.
Pertamanya saya tidak terlalu
memperhatikan, tapi karena sudah dua kali bapak tua itu lewat, saya jadi
memperhatikan dengan lebih seksama. Saya tidak tahu kakek2 itu jualan apa, tapi
karena kasihan, saya bilang ke suami, "Mau beli jualan kakek-kakek itu?
Kasian tuh, sudah ngisep asap knalpot gak ada yang mau beli."
Jadilah suami membuka jendela mobil dan
membeli dagangan bapak2 itu, yang ternyata kerupuk dikemas dalam toples plastik
besar. Harganya… seratus ribu, bo! Pantesan gak laku kali yeee… Tapi tanpa
banyak cakap, saya langsung membayar. Gak pakai nawar. Padahal saya terkenal
pelit lhoo….
Macet lagi. Tiba-tiba ada jalan sempalan
lagi yang kosong melompong. Entah kenapa gak ada yang mau belok ke situ. Dan
suami tiba-tiba memutuskan untuk belok ke jalan kosong itu.
"Ini jalan biasanya dipalang!" kata
saya, mendadak panik karena samar-samar ingat pernah lewat situ.
Dan ternyata, jalan itu palangnya dibuka,
dan merupakan jalan pulang pintas! Semua menit yang terbuang mengantri tadi
diganti dengan jalan pintas yang tak sengaja kami temukan. Aneh...
"Mungkin Tuhan memang memang nyuruh kita
parkir di situ tadi. Kalau tidak, kita tidak bisa membeli jualan bapak tua
tadi. Dan memang harus macet, kalau ngebut mana mungkin bisa melihat ada bapak
itu jualannya gak laku, " kata suami yang juga bingung. "Lain kali
tetap gak mau parkir di situ sih, macet, lama. Tapi bahkan waktu yang terbuang
macet pun diganti sama Tuhan. Aneh, kenapa di belakang kita gak ada mobil yang
ikutan belok ke sini ya? Mungkin karena seperti kata kamu, biasanya jalan ini
dipalang."
Lalu kita pun pulang, sambil berdoa
moga-moga mobil-mobil di belakang kita ikut membeli jualan bapak tua tadi.
“Kerupuknya kemahalan sih, tapi siapa tahu
bapak tua tadi sedang perlu uang. Misalnya istrinya sakit,” kata suami. “Keluar
duit seratus ribu gak akan bikin kita miskin kok. Lagian gak usah lah ngomong
liburan ke luar negeri atau beli barang bermerk kalau nolongin bapak tua tadi
itu aja gak mau atau masih pakai nawar, " kata suami.
"Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku
makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu
memberi Aku tumpangan.
Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu,
sebagaimana
kamu melakukannya terhadap satu dari saudara-saudara-Ku yang paling kecil ini,
kamu melakukannya untuk-Ku. "
(Matius 25:35,40)
Terima kasih untuk pelajaran malam ini, Tuhan...
Tatkala Tuhan menyuruh kita melakukan suatu hal yang tidak
masuk akal, lakukanlah! Karena itu pasti ada maksudnya.
Dan kalau kepatuhan itu menjadikanmu berada pada situasi
tidak nyaman, atau merepotkanmu, tetap lakukanlah! Kepatuhan kita boleh jadi
merupakan jawaban doa dari seseorang di ujung sana. Dengan menurutiNya dan
menjadi penyalur berkat dariNya, kita ikut memuliakan Dia.
Dan mungkin, tapi kita tidak boleh menuntut, paling tidak
dalam kasus kami, Dia membayar lunas semua “kerepotan” kami, mengganti semua
waktu yang terbuang karena macet dengan jalan pintas yang tidak
disangka-sangka.
You can NOT outgive God.
Dalam setiap rezeki dariNya, pasti ada titipan untuk
orang-orang yang membutuhkan. Kalau kita tidak menyalurkanNya, berarti kita
mencuri dari Tuhan.









